✦ Kerajaan Sriwijaya · 682 Masehi · Palembang ✦

Prasasti Kedukan Bukit

Situs Museum Nasional Indonesia · D.146

Foto asli Prasasti Kedukan Bukit

✦ Foto Asli · Wikimedia Commons · Gunawan Kartapranata · CC BY-SA 3.0 ✦

Batu andesit 45×80 cm yang menyimpan kisah lahirnya Sriwijaya — imperium maritim terbesar Asia Tenggara. Ditulis dalam Aksara Pallawa dan Bahasa Melayu Kuno, 682 Masehi.

Jelajahi Kisahnya
✦ Pengkajian Prasasti ✦

Batu yang Bicara

Foto Asli · Museum Nasional
Prasasti Kedukan Bukit - tampak keseluruhan

Tampak Keseluruhan · Batu Andesit 45×80 cm

Aksara Pallawa · Baris 1–3
svasti śrī śaka­varsha­tīta 604
ekādaśī śukla­paksha
vulan vaiśākha
"Selamat! Tahun Śaka yang telah lewat 604, hari kesebelas bulan terang, bulan Waisyak..."
Prasasti Pertama · Penemuan

Ditemukan di Tepi Sungai Tatang, 1920

Pada 29 November 1920, C.J. Batenburg — pegawai kolonial Belanda — menemukan batu hitam kecil di tebing Sungai Tatang, anak Sungai Musi, kawasan Kedukan Bukit, Palembang.

Batu andesit berbentuk oval seperti telur berukuran 45 × 80 cm ini memuat 10 baris tulisan Aksara Pallawa dalam Bahasa Melayu Kuno — bukti tertulis tertua bahasa Melayu yang pernah ditemukan.

Empat tahun kemudian, Philippus Samuel van Ronkel, ahli bahasa Melayu kenamaan, berhasil mentranskripsi dan menerjemahkan seluruh isinya.

📍

Kini tersimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, dengan nomor koleksi D.146, bersama Prasasti Telaga Batu

Foto Asli · Tulisan Dekat
Prasasti Kedukan Bukit - close up aksara

Detail Ukiran Aksara Pallawa

Aksara · Baris 4–7 · Inti Kisah
dapunta hiyaṅ marlapas dari
minaṅtāmvan membāvā yaṅ
kāmūlān dua laksa
kodam sāpta ratus
"Dapunta Hiyaṅ berangkat dari Minangatamwan membawa pasukan dua laksa, tujuh ratus kodam berlayar di perahu..."
Prasasti Kedua · Ekspedisi Agung

Perjalanan 20.000 Tentara Sriwijaya

Prasasti ini mencatat perjalanan Dapunta Hiyaṅ Sri Jayanasa — pendiri Sriwijaya — yang berlayar bersama 20.000 tentara dan 1.312 prajurit berjalan kaki dari Minangatamwan.

Dalam 8 hari ekspedisi penuh kemenangan, armada ini berhasil memperluas wilayah Sriwijaya dan mendirikan wanua (negeri baru) yang kelak menjadi jantung imperium maritim terbesar Asia Tenggara.

Tanggal ekspedisi: 16 Juni 682 Masehi — yang kini diperingati sebagai Hari Jadi Kota Palembang.

⚔️

Ini adalah rekaman ekspedisi militer tertua dalam sejarah Nusantara yang tercatat dalam prasasti

Foto Asli · Sudut Pandang Lain
Prasasti Kedukan Bukit - sudut berbeda

Tampak Samping · Kontur Batu Andesit

Aksara · Baris 9–10 · Penutup
marvuat vanua
śrīvijaya jaya
siddhayātra subhiksa
"Membuat negeri Sriwijaya jaya, perjalanannya berhasil, dan kemakmuran terjadi untuk seluruh rakyat..."
Prasasti Ketiga · Signifikansi

Simbol yang Berkembang pada Prasasti Kedukan Bukit

✦ Simbol Siddhayatra (Perjalanan Suci) Prasasti Kedukan Bukit menampilkan konsep siddhayatra, yaitu perjalanan suci yang dilakukan Dapunta Hyang bersama pasukan dan armada perahu. Simbol ini tidak hanya menggambarkan perjalanan fisik, tetapi juga melambangkan keberhasilan, legitimasi sakral, dan ekspansi politik Sriwijaya. Melalui simbol ini, penaklukan wilayah dipahami sebagai tindakan yang mendapat restu religius.

✦ Simbol Maritim dan Sungai Isi prasasti banyak menonjolkan perjalanan air, penggunaan perahu, dan jalur sungai. Hal tersebut menunjukkan berkembangnya simbol maritim sebagai identitas utama Sriwijaya. Sungai dan pelayaran bukan sekadar sarana transportasi, tetapi simbol kekuasaan, perdagangan, dan penguasaan wilayah. Identitas ini membedakan Sriwijaya dari kerajaan agraris di Jawa yang lebih menonjolkan simbol gunung dan pertanian.

✦ Simbol Kekuasaan Sakral Penggunaan gelar Dapunta Hyang memperlihatkan berkembangnya simbol penguasa sakral dalam budaya Sriwijaya. Kata hyang memiliki makna spiritual yang berkaitan dengan kesucian dan roh leluhur, sehingga raja dipandang bukan hanya sebagai pemimpin politik, tetapi juga figur yang memiliki legitimasi religius.

✦ Simbol Budaya Tulis Penggunaan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno menunjukkan berkembangnya simbol intelektual dan budaya tulis di Sriwijaya. Tulisan pada prasasti menjadi lambang otoritas kerajaan, media legitimasi politik, serta penanda bahwa Sriwijaya telah memiliki sistem administrasi dan komunikasi yang terorganisir pada abad ke-7 M.

✦ Simbol Identitas Melayu Awal Pemakaian bahasa Melayu Kuno dalam prasasti menunjukkan berkembangnya identitas politik dan budaya Melayu. Bahasa lokal mulai digunakan dalam prasasti kerajaan, tidak lagi sepenuhnya memakai Sanskerta. Simbol ini menjadi awal terbentuknya tradisi politik dan budaya Melayu yang kemudian berkembang luas di Asia Tenggara.

Foto Asli · Prasasti Sapatha
Prasasti Kota Kapur - Sumpah dan Kutukan Sriwijaya

Prasasti Kota Kapur · Sumpah & Kutukan

Warisan Tak Lekang Waktu
pallawa ➔ kawi ➔ rencong
melayu kuno ➔ indonesia
Prasasti Keempat · Warisan Abadi

Tulisan dan Simbol yang Berkembang serta Keberlanjutannya setelah Sriwijaya

Perkembangan tulisan dan simbol pada masa Sriwijaya menunjukkan terbentuknya identitas politik dan budaya Melayu yang memiliki pengaruh panjang di Asia Tenggara. Melalui Prasasti Kedukan Bukit dan prasasti-prasasti sapatha (seperti Prasasti Kota Kapur), Sriwijaya menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno sebagai media administrasi, legitimasi kekuasaan, serta penyebaran simbol religius dan politik. Penggunaan bahasa Melayu Kuno menjadi perkembangan penting karena untuk pertama kalinya bahasa lokal digunakan secara luas dalam prasasti kerajaan, tidak lagi sepenuhnya bergantung pada bahasa Sanskerta. Tradisi ini kemudian terus berkembang setelah runtuhnya Sriwijaya dan menjadi dasar lahirnya bahasa Melayu Klasik yang dipakai di berbagai kerajaan Melayu, hingga akhirnya berkembang menjadi Bahasa Indonesia modern.

Selain tulisan, beberapa simbol kekuasaan Sriwijaya juga tetap bertahan pada masa setelahnya. Konsep penguasa sakral yang terlihat melalui gelar seperti Dapunta Hyang berkembang menjadi gagasan raja yang memiliki legitimasi spiritual dalam tradisi kerajaan Melayu dan Nusantara. Simbol maritim berupa sungai, pelayaran, dan kapal juga terus muncul dalam identitas budaya Melayu karena masyarakat pesisir tetap bergantung pada perdagangan dan jalur perairan. Sementara itu, pengaruh aksara Pallawa berkembang menjadi berbagai bentuk tulisan lokal seperti aksara Kawi, Ulu, dan Rencong. Hal ini menunjukkan bahwa warisan Sriwijaya tidak berhenti pada masa kerajaannya saja, tetapi terus hidup melalui bahasa, sistem tulisan, dan simbol politik-budaya yang digunakan oleh masyarakat dan kerajaan setelahnya.

Prasasti Kedukan Bukit lengkap

✦ Foto: Gunawan Kartapranata · Wikimedia Commons · CC BY-SA 3.0 ✦

"Dari batu kecil ini, peradaban agung yang mengubah wajah Asia lahir ke dunia."

682

Tahun Berdiri

Śaka 604, Bulan Waisyak, Hari ke-11

10

Baris Tulisan

Dalam Aksara Pallawa dan Melayu Kuno

45×80

Ukuran (cm)

Batu andesit oval — sekecil batu kali biasa

290M

Penutur Bahasa Keturunannya

Bahasa Indonesia & Melayu modern

✦ Eksplorasi 3D ✦

Putar Prasasti 360°

Klik & Seret untuk memutar · Scroll untuk zoom ✦

✦ Model 3D Interaktif ✦

Batu Andesit
Prasasti Kedukan Bukit

Jelajahi bentuk asli batu andesit oval berukuran 45 × 80 cm ini dari segala sudut. Putar untuk melihat bagian sisi, belakang, dan tekstur permukaan batu yang memuat 10 baris Aksara Pallawa.

Ditemukan tahun 1920 oleh C.J. Batenburg di tepi Sungai Tatang, Palembang — kini tersimpan di Museum Nasional Indonesia.

0Tahun Berdiri
0Pasukan Ekspedisi
0Baris Prasasti
0Tahun Sriwijaya Berkuasa
✦ Daftar Pustaka ✦

Referensi & Sumber

📜 Prasasti & Epigrafi
Prasasti Kedukan Bukit (D.146)
682 Masehi · Museum Nasional Indonesia, Jakarta · Aksara Pallawa, Bahasa Melayu Kuno
Cœdès, George — "Le Royaume de Çrīvijaya"
Bulletin de l'École française d'Extrême-Orient, 1918 · Publikasi pertama yang mengidentifikasi Sriwijaya dari prasasti
Prasasti Kota Kapur
686 Masehi · Bangka, Sumatera · Prasasti Sriwijaya sezaman dalam Aksara Pallawa
Prasasti Telaga Batu
abad ke-7 · Palembang · Berisi sumpah setia kepada Maharaja Sriwijaya
📚 Buku & Jurnal Ilmiah
Munoz, Paul Michel — Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula
Editions Didier Millet, Singapore, 2006 · ISBN: 9814155675
Wolters, O.W. — Early Indonesian Commerce
Cornell University Press, 1967 · Studi perdagangan maritim Sriwijaya awal
Hall, Kenneth R. — Maritime Trade and State Development in Early Southeast Asia
University of Hawaii Press, 1985 · Analisis struktur ekonomi dan politik Sriwijaya
Miksic, John N. — Singapore and the Silk Road of the Sea
NUS Press, 2013 · Jalur sutera maritim Asia Tenggara abad ke-7–14
🌐 Sumber Digital & Foto
Wikipedia — Srivijaya
Ensiklopedia daring · Diakses April 2026
→ Buka Halaman
Wikipedia — Kedukan Bukit Inscription
Ensiklopedia daring · Diakses April 2026
→ Buka Halaman
Wikimedia Commons — Foto Prasasti & Artefak
Gunawan Kartapranata · CC BY-SA 3.0 · Foto prasasti, peta Sriwijaya, kapal Samudra Raksa
→ Buka Galeri
Britannica — Srivijaya Empire
Encyclopædia Britannica · Diakses April 2026
→ Buka Halaman
✦ Seluruh foto dan gambar dalam website ini bersumber dari Wikimedia Commons dengan lisensi Creative Commons (CC BY-SA) dan digunakan untuk keperluan edukasi. ✦